1. Entertainment
  2. Film Orang Ikan:  Perpaduan Sinema Monster Klasik dan Sejarah Perang
Entertainment

Film Orang Ikan:  Perpaduan Sinema Monster Klasik dan Sejarah Perang

Film Orang Ikan:  Perpaduan Sinema Monster Klasik dan Sejarah Perang

Sumber foto: Tribunnews.com

Ladiestory.id - Industri film horor Indonesia kerap terinspirasi oleh cerita rakyat dan mitologi lokal yang sarat nilai budaya. Namun, film terbaru berjudul Orang Ikan membawa pendekatan yang berbeda. Diproduksi oleh Gorylah Pictures bekerja sama dengan Zhao Wei Films dan Infinite Studios, film ini menghadirkan kombinasi unik antara legenda Melayu, sejarah Perang Dunia II, dan gaya visual monster klasik ala Hollywood.

Disutradarai dan ditulis oleh Mike Wiluan, Orang Ikan menyuguhkan kisah tentang kemanusiaan, perang, dan konfrontasi manusia dengan kekuatan alam yang tidak mereka pahami. “Film ini berbicara tentang bagaimana manusia sering kali menghancurkan sesuatu yang tidak mereka mengerti. Makhluk seperti Orang Ikan justru bertahan karena hidup selaras dengan alam, berbeda dengan manusia yang kerap menjadi sumber konflik,” ujar Mike pada Kamis, 10 Juli 2025.

 

Cerita dan Inspirasi Film

Latar belakang film ini mengambil era Perang Dunia II, dengan fokus pada pertemuan tak terduga antara seorang prajurit Jepang dan tahanan perang asal Inggris. Keduanya terdampar di sebuah pulau misterius di wilayah Asia Tenggara dan harus menghadapi ancaman dari makhluk mengerikan yang hidup di perairan sekitar pulau.

Kisahnya berakar pada legenda rakyat Melayu tentang makhluk setengah manusia setengah ikan. Mike Wiluan mengaku terinspirasi dari film klasik tahun 1954 Creature from the Black Lagoon, namun membawanya ke konteks Asia dengan menyelipkan isu kemanusiaan dan warisan mitologi lokal. “Ini bukan hanya film monster, tapi juga cerita asal-usul makhluk yang lahir dari tragedi perang dan ketakutan manusia akan hal yang asing,” jelas Mike.

 

Pemain dan Tim Produksi Internasional

Film Orang Ikan menampilkan sejumlah nama besar dari industri film internasional. Di antaranya Dean Fujioka, aktor sekaligus penyanyi asal Jepang yang telah dikenal luas di Asia Timur, serta Callum Woodhouse, aktor asal Inggris yang dikenal lewat The Durrells dan All Creatures Great and Small. Turut hadir Alan Maxson, aktor spesialis makhluk monster dari Hollywood.

Di balik layar, sejumlah produser ternama juga terlibat, seperti Eric Khoo, Freddie Yeo, Tan Fong Cheng, Fumie Suzuki Lancaster, dan James Khoo. Produksi ini mendapat dukungan penuh dari Gorylah Pictures, Zhao Wei Films (Singapura), dan Infinite Studios (Indonesia).

Meski dipenuhi talenta lintas negara, proses produksi film ini sepenuhnya dilakukan di Indonesia. Lokasi syuting mencakup Curug Sodong dan kawasan Geopark Ciletuh di Sukabumi, serta Studio Infinite di Batam. Film ini juga melibatkan tim kreatif Indonesia seperti Asep Kalila sebagai sinematografer yang memadukan suasana tropis dengan horor laut, Ernaka Puspita Dewi sebagai desainer makeup, dan Fajrul Fadillah sebagai seniman efek visual (FVX).

Bahasa dan Karakter Multinasional

Karena mengangkat cerita dari dua pihak yang bertikai pada masa perang, film ini menggunakan bahasa Inggris dan Jepang. Hal ini tak hanya menambah nuansa otentik, tetapi juga menjadi alasan utama pemilihan aktor dari negara masing-masing.

Dean sangat cocok karena fasih dalam beberapa bahasa dan berpengalaman dalam adegan aksi. Sementara Callum membawa energi segar sebagai karakter Inggris yang berani dan tangguh. Keduanya sangat profesional dan siap menghadapi tantangan syuting yang berat,” ungkap Mike.

Tantangan Produksi: Dari Lokasi Ekstrem hingga Desain Makhluk

Salah satu aspek paling menantang dalam produksi Orang Ikan adalah penciptaan sosok makhluk itu sendiri, yang menjadi pusat cerita. “Desain makhluk sangat penting, karena dia bukan sekadar efek visual dia adalah karakter utama. Kami harus benar-benar teliti dalam desain prostetik dan kostum, serta memilih aktor yang bisa menghidupkannya,” kata Mike.

Selain itu, proses syuting juga tidak mudah karena dilakukan di lokasi yang sulit dijangkau. “Kami bekerja di medan yang ekstrem, yang menuntut stamina fisik dan mental dari seluruh tim,” tambahnya.

Orang Ikan bukan sekadar film horor monster biasa. Ia menawarkan pengalaman sinematik yang kaya akan nilai budaya, mitologi, dan sejarah. Dengan pendekatan visual yang kuat dan narasi yang menyentuh sisi kemanusiaan, film ini menjadi simbol bagaimana kisah klasik bisa dihidupkan kembali dengan cara yang segar dan relevan untuk penonton masa kini.

Film ini diharapkan dapat membuka jalan baru bagi genre horor Asia Tenggara di panggung internasional bukan hanya dengan teror, tetapi juga dengan kedalaman cerita yang bermakna.

Sumber artikel: jabar.tribunnews.com 

Topics :
Artikel terlalu panjang? klik untuk rangkuman :
Bagikan Artikel
Trending